Wednesday, December 21, 2016

Cerpen Rakyat Nusantara Dari Jawa Barat

Sudah banyak sekali cerpen rakyat Nusantara yang Kakak terbitkan di blog ini. Kalian bisa menemukan cerita rakyat pendek nusantara dari seluruh propinsi yang adan di Indonesia. Malam ini kakak akan memposting dua diatara ratusa cerita pendek rakyat yang paling terkenal. Selamat membaca.

Cerpen Rakyat Nusantara : Purbasari Yang Berhati Mulia Dan Purbararang Yang Dengki

Di tanah Pasundan (Jawa Barat), hidup seorang raja bernama Prabu Tapa Agung. Sang raja mempunyai dua orang putri bernama Purbararang dan adiknya, Purbasari. Suatu hari, raja memutuskan untuk menunjuk Purbasari menjadi ratu.

Keputusan itu membuat Purbararang marah. "Aku kan putri sulung, seharusnya ayah memilihku sebagai ratu," gerutu Purbararang.
Muncul rasa dengki dalam hati Purbararang. la berniat mencelakakan purbasari. la pun pergi menemui seorang penyihir. Penyihir itu memantrai Purbasari sehingga wajah dan sekujur tubuhnya memiliki bintik-bintik hitam.
"Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas jadi ratu!" ujar Purbararang kepada ayahnya. Raja akhirnya terpaksa mengusir Purbasari dari istana ke dalam hutan belantara.
Selama hidup di hutan, Purbasari berteman dengan hewan. Di antara hewan tersebut, ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Purbasari menamai kera itu, Lutung Kasarung.
Lutung Kasarung dengan setia menghibur Purbasari setiap hari. la mengambilkan bunga-bunga yang indah dan buah-buahan yang Iezat untuk Purbasari.
Suatu malam saat bulan purnama, Lutung Kasarung menyuruh Purbasari untuk mandi di telaga. Purbasari menuruti perintah Lutung Kasarung. Saat ia mandi, sesuatu terjadi. Kulitnya menjadi bersih seperti semula. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika berkaca melihat dirinya di telaga.
Sementara itu di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat kondisi adiknya di hutan bersama para pengawal. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang pun marah.
la berkata dengan sombong, "Kutukanmu memang telah punah. Tapi, seorang ratu harus mempunyai suami yang tampan. Calon suamiku sangat tampan. Mana calon suamimu?"
Purbasari kebingungan. Akhirnya, ia menarik tangan Lutung Kasarung. Purbararang tertawa terbahak-bahak, "Jadi, monyet itu tunanganmu? Mana ada ratu punya suami seekor monyet?"
Pada saat itu juga, Lutung Kasarung bersemedi. Tiba-tiba, terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang pangeran yang berwajah sangat tampan.
Semua terkejut melihat kejadian itu. Purbararang akhirnya mengakui kesalahannya selama ini. la memohon maaf kepada adiknya dan memohon agar tidak dihukum.
Purbasari yang baik hati memaafkan kakaknya. Setelah kejadian itu, mereka semua kembali ke istana. Purbasari menjadi seorang ratu yang didampingi oleh seorang pangeran tampan.
Pesan Moral dari Cerpen Rakyat Nusantara adalah jadilah anak yang baik hati. Anak yang baik hati selalu dilindungi oleh Tuhan dan doa-doanya akan selalu dikabulkan. Jangan jadi anak yang dengki dan suka mencelakai orang lain. Sebab, Tuhan benci anak yang dengki.
Cerpen Rakyat Dunia Dari Skandinavia : Kisah Lembu, Biri—Biri, Dan Kambing
Dahulu kala, hiduplah sebuah keluarga yang sangat kaya. Suatu hari, mereka pindah ke kota lain. Namun, saat mereka pindah terjadi badai salju.
Mereka pun terpaksa meninggalkan seekor anak lembu, biri-biri, dan kambing. Masing-masing baru berusia dua tahun. Mereka tidak akan bertahan hidup jika harus melakukan perjalanan saat terjadi badai saiju.
Ketiga hewan itu hidup sendiri di rumah keluarga kaya. Mereka berusaha bertahan hidup melewati musim dingin. Akhirnya, musim semi tiba. Rumput-rumput hijau mulai tumbuh di mana-mana.
Lembu kecil, biri-biri kecil, dan kambing kecil dengan riang melahap rumput sehingga badan mereka semakin lama semakin gemuk.
Suatu ketika, saat ketiga hewan itu sedang asyik makan, datang serigala yang terlihat sangat lapar. Serigala membasahi bibirnya melihat tiga hewan itu. "Ah, sepertinya hari ini aku bisa makan tiga jenis daging yang lezat-lezat," pikir serigala.
Serigala berjalan menemui ketiga hewan itu secara terpisah. Pertama, ia menemui lembu dan bertanya dengan nada membentak, "Siapa namamu?"
"Namaku Raja Gundeng. Akulah si perut besar," jawab lembu.
Mendengar jawaban lembu, serigala agak terkejut. Lalu, ia menunjuk tanduk lembu dan bertanya, "Apa itu di kepalamu?"
"Ini adalah tombak hitamku pemberian dewa di surga. Aku kan menanduk siapa pun yang berani menyerangku," jawab lembu.
Serigala terdiam kaget mendengar jawaban lembu. la pun memutuskan untuk tidak memakan lembu dan beralih ke biri-biri.
"Siapa namamu?" tanya serigala kepada biri-biri. "Namaku Raja Tonji. Akulah si kepala besar," jawab biri-biri.
Serigala kembali terkejut dan bertanya lagi, "Apa itu di kepalamu?"
“Ini adalah palu godam hitamku pemberian dewa di langit. Aku membutuhkan palu godamku ini untuk menghajar siapa pun yang datang menyerangku. Aku akan menanduknya sampai mati," gertak biri-biri.
Serigala langsung ketakutan mendengar jawaban biri-biri. la memutuskan untuk meninggalkan biri-biri dan menemui kambing.
"Siapa namamu?" tanya serigala kepada kambing. “Namaku Pahlawan Senge. Akulah si tanduk golok besar. Namun, karena aku memiliki janggut, arang juga sering memanggilku Raja Sanja," jawab kambing tidak menunjukkan rasa takut pada seri- gala.

Serigala merasa resah dan kembali bertanya, “Apa itu di kepalamu?"
"Ini adalah senjataku yang tajam pemberian dewa di langit. Aku bisa menusuk dan merobek perut siapa pun dengan tandukku ini," ancam kam- bing.
Serigala yang sejak tadi sudah ciut nyalinya, semakin takut mendengar jawaban kambing. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari meninggalkan kambing.
Kemudian, kambing mengejar serigala sambil terus mengoceh menakut-nakuti serigala.
Sejak saat itu, ketiga hewan hidup aman tanpa gangguan serigala. Mereka terus memakan rumput hingga akhirnya tubuh mereka semakin gemuk dan kuat. Setelah kuat, mereka menyusul keluarga kaya itu dan berkumpul kembali dengan hewan ternak Iainnya.


“Pesan moral dari Cerpen Rakyat Dunia Dari Skandinavia adalah Jadilah anak yang pintar. Anak yang pintar pasti menghadapi masalah yang dihadapinya. Sementar anak yang malas dan bodoh hanya menjadi beban orangtuanya. Untuk menjadi anak yang pintar kita harus banyak membaca dan sering belajar.”

Baca cerita rakyat singkat terbaik dari seluruh dunia di artikel kakak berikut ini


Picture Source : Dongngceritarakyat



Cerita Rakyat Telaga Warna Dari Jawa Barat

Cerita rakyat telaga warna mengisahkan Putri angkuh dengan kalung permatanya. Dongeng telaga warna berasal dari Jawa Barat dan menjadi asal muasal salah satu danau kecil yang indah di Jawa Barat. Kisah ini juga memberikan pesan moral yang baik untuk kita. Adik-adik harus membacanya sampai selesai.

Cerita Rakyat Telaga Warna : Putri Angkuh dan Kalung Permata

Di Jawa Barat, ada sebuah telaga yang diberi nama Telaga Warna. Pada saat cuaca sedang cerah, telaga ini akan memantulkan warna- warni yang indah. Konon, Telaga Warna berasal dari air mata Ratu Purbamanah.
Ratu Purbamanah dan Raja Suwartaiaya adalah pemimpin Kerajaan Kutatanggeuhan di Jawa Barat. Mereka memerintah dengan arif dan sangat dicintai rakyatnya.
Mereka mempunyai seorang putri yang cantik, yaitu Gilang Rukmini. Orangtuanya sangat memanjakan Gilang Rukmini, karena ia adalah anak satu- satunya. Hal ini membuat Gilang Rukmini bersifat kurang baik. la akan marah dan bertindak kasar jika keinginannya tidak dipenuhi. Walau begitu, orangtua dan rakyat tetap menghargai dan menyayanginya.
Ketika bagi Gilang Rukmini berusia 17 tahun, Raja mengadakan pesta untuknya. la mengundang seluruh rakyat untuk datang. Rakyat pun memusyawarahkan hadiah yang akan diberikan kepada sang Putri. Mereka mengumpulkan uang dan memanggil seorang pengrajin perhiasan yang terkenal. Lalu, jadilah sebuah kalung bertahta permata warna-warni yang sangat indah.
Pesta di mulai, ketika Raja dan Ratu muncul untuk menyapa rakyatnya, mereka segera disambut dengan gembira oleh rakyat. Begitupun ketika Gilang Rukmini muncul.
Rakyat pun memberikan hadiah yang mereka siapkan. Raja Suwartalaya membuka hadiah tersebut dan menemukan sebuah kalung yang sangat indah.
"Putriku saying, pakailah kalung ini, hadiah tanda cinta rakyat kepadarnu," kata Raja kepada putrinya.
"Kalung ini sangat cantik, Nak. Pakailah, kalau tidak rakyat akan kecewa," ujar Ratu Purbamanah.
Gilang Rukmini menatap hadiah kalung itu dengan wajah sebal, "Apa yang indah dari kalung ini, Ibunda? Bentuknya sangat kampungan dan tidak menarik. Aku malu memakainya!" Lalu, ia menghempaskan kalung tersebut ke lantai, sehingga butir butir permatanya tercecer.
Semua tercengang melihat sikap Gilang Rukmini. Tiba-tiba terdengar suara tangis Ratu Purbamanah. la sangat sedih dengan sikap anaknya yang angkuh itu. Tangisnya sangat memilukan hati. Air mata sang Ratu terus mengalir. Karena derasnya air math itu, terbentuklah genangan. Tiba tiba juga, muncullah mata air di halaman istana, makin lama genangan semakin tinggi dan akhinya menenggelamkan seluruh Kerajaan Kutatanggeuhan menjadi sebuah telaga yang sangat indah.
Pada hari yang cerah, telaga itu memantulkan warna-warni yang indah yang konon berasal dari ceceran kalung Gilang Rukmini yang masih berada di dasar telaga.
Pesan moral dari Cerita Rakyat Telaga Warna : Putri Angkuh dan Kalung Permata adalah janganlah menjadi orang sombong karena hal itu akan di benci oleh orang lain. Selain itu hargailah jerih payah orang lain.
Dongeng Anak Sunda : Asal Usul Indramayu
Indramayu adalah sebuah kabupaten di Jawa Barat. Ada beberapa versi mengenai sejarah nama Indramayu ini. Salah satunya diambil dari kisah Raden Wiralodra. Raden Wilarodra adalah anak Tumenggung Gagak Singalodra yang bermukim di daerah Banyuurip, Bagelen, Jawa Tengah. Suatu saat, Raden Wiralodra ingin mengembangkan wilayah di sekitar Sungai Cimanuk.
Kemudian, wilayah ini berkembang pesat di bawah kepemimpinan Roden Wiralodra. Tak puas di sana, ia ingin mengembangkan daerah kekuasaannya ke daerah Sumedang. Saat itu, Sumedang dipimpin oleh seorang adipati. Dengan kesaktiannya, Raden Wiralodra mengubah dirinya menjadi seorang perempuan yang cantik jelita bernama Nyi Endang Dharma Ayu. Kecantikan perempuan ini membuat Adipati Sumedang terpikat dan berniat melamarnya.
"Aku akan menerima lamaranmu jika kau memberikan aku tanah seluas kulit kerbau.” ujar Nyi Endang Dharma Ayu.
Adipati Sumedang pun memenuhinya. Ketika gulungan kulit kerbau tersebut digelar, secara ajaib ternyata kulit itu membentang luas dari Begelen ke Sumedang.
Setelah menikah, Nyi Endang Dharma Ayu kembali ke wujudnya semula menjadi seorang laki-laki, yaitu Raden Wiralodra. Nama Endang Dharma Ayu kemudian berubah menjadi Dermayu dan lama-kelamaan menjadi Indramayu yang dijadikan sebagai nama daerah tersebut.


“Catatan dari Dongeng Anak Sunda : Asal Usul Indramayu adalah Indramayu merupakan daerah di Pantai Utara, sebelah barat Cirebon.”


Selain dongeng telaga warna masih banyak cerita rakyat menarik lainnya misalnya pada posting kami berikut ini Dongeng Rakyat Dari Papua Barat dan Dongeng Cerita Rakyat Lutung Kasarung


Picture Source : Dongengceritarakyat



Cerita Rakyat Tangkuban Perahu : Dongeng Sangkuriang

Cerita Rakyat Tangkuban Perahu yang kakak ceritakan sore ini merupakan cerita ketiga yang mengisahkan Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Jika kalian ingin tahu versi yang lain dari cerita rakyat gunung tangkuban perahu kalian bisa membaca artikel sebelumya yaitu Legenda Sangkuriang : Asal Gunung Tangkuban Perahu dan Kumpulan Dongeng dan Cerita Rakyat Pulau Jawa. Kakak yakin sebagian besar dari kalian sudah tahu dongeng tangkuban perahu, jika yang belum tahu, ini dia kisah lengkapnya.

Cerita Rakyat Tangkuban Perahu : Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Asal Muasal Gunung Tangkuban Perahu – Cerita Rakyat Sangkuriang

Dayang Sumbi adalah seorang putri raja yang berparas cantik dan berhati mulia. Ia pergi mengasingkan diri ke hutan karena bosan dengan kehidupannya di dalam istana. Disamping itu hal ini untuk menghindari pertikaian antara kerjaaan tetangga yang berebut untuk mempersuntingnya.
Karena kecantikan paras dan baik budi pekertinya, banyak sekali pangeran dan putra bangsawan yang meminang putri Raja ini. Akibatnya terjadi peprangan antar kerajaan karena semua pangeran dan para bangsawan tidak ada yang mau mengalah. Melihat kejadian ini Dayang Sumbi menjadi sedih dan akhirnya mohon pamit kepada ayahandanya untuk mengasingkan diri. Dengan berat hati Sri Baginda Raja merestui permohonan anaknya tersebut.
Di hutan, ia ditemani oleh anjing jantannya bernama Tumang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Dayang Sumbi menenun kain yang kemudian dijual di pasar.
Suatu hari, alat tenunnya terjatuh dan menggelinding ke bawah bukit. Dayang Sumbi malas untuk mengambilnya. Tanpa pikir panjang, ia mengucapkan sumpah, "Siapa yang bisa mengambilkan alat tenunku? Aku bersumpah, jika perempuan, ia akan kujadikan saudaraku dan jika laki-laki, akan kujadikan suamiku."
Tumang, yang sebenarnya adalah titisan seorang dewa, mendengar sumpah Dayang Sumbi. Ia segera berlari menuruni bukit dan mengambil alat tenun Dayang Sumbi.
Walaupun tidak mengira dengan apa yang terjadi, Dayang Sumbi tetap menepati janjinya. Dayang Sumbi akhirnya menikah dengan Tumang. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Sangkuriang. Sangkuriang kecil sangat mahir berburu. Ia menggunakan tombak dan panah untuk membunuh buruannya. Sangkuriang kecil tak pernah tahu, siapa ayahnya.
Pagi itu, seperti biasa Sangkuriang pergi berburu bersama Tumang. "Lihat Tumang... sepasang rusa yang gemuk." Sangkuriang segera mengeluarkan anak panahnya. Namun sayang, kedua rusa itu sadar adanya bahaya dan melarikan diri. Anak panah itu hanya mengenai paha salah satu rusa. Sangkuriang lalu menguruh Tumang untuk mengejar rusa itu. "Cepat Tumang, kejarlah mereka! Gigit kakinya supaya mereka tak bisa lari lagi," perintahnya pada Tumang.
Dalam hati, Tumang sebenarnya kurang suka jika putranya itu membunuh hewan-hewan hutan. Tumang akhirnya berpura-pura mengejar kedua rusa tersebut, dan ia kembali tanpa hasil. "Payah! Seharusnya kau bisa menangkapnya dengan mudah," gerutu Sangkuriang. Karena kecewa, Sangkuriang mengusir Tumang. "Anjing Tua, pergilah jauh-jauh dariku. Kau sudah tidak berguna lagi!"
Andai saja ia tahu bahwa Tumang adalah ayahnya, ia tentu tak akan mengusirnya. Dengan hati sedih, Tumang pun pergi meninggalkan Sangkuriang.

Sesampainya di rumah, Sangkuriang bercerita pada ibunya, "Aku hampir saja mendapatkan seekor rusa. Tapi gara-gara Tumang, aku gagal. Anjing kita itu sudah terlalu tua, Bu,"
Dayang Sumbi menengok keluar dan bertanya, "Di mana Tumang sekarang?"
"Sudah kuusir. Untuk apa kita memeliharanya lagi? Ia sudah tua dan tak berguna."
Dagang Sumbi terkesiap. "Apa? Sangkuriang, berani sekali kau mengusir Tumang."
Dayang Sumbi marah sekali. Ia mengambil sendok nasi dan memukulkannya ke kepala Sangkuriang. Saking kerasnya, kepala Sangkuriang terluka dan berdarah. Sangkuriang menangis dan kecewa. "Mengapa Ibu memukulku demi seekor anjing?" tanyanya. Lalu ia mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumah. Dayang Sumbi menyesali perbuatannya, tapi Sangkuriang sudah terlanjur pergi meninggalkannya.
Tak terasa hari demi hari berlalu. Sangkuriang sekarang telah dewasa. Selama kepergiannya, ia menjelajahi seluruh negeri. la pindah dari satu daerah ke daerah yang lain. Suatu saat, tanpa sadar, Sangkuriang kembali ke hutan tempat ia dulu tinggal bersama Dayang Sumbi. Hutan itu sudah jauh berubah. Pohonnya tak lagi banyak dan digantikan oleh rumah-rumah penduduk yang bagus-bagus. Sangkuriang benar-benar tak mengenali bahwa inilah hutan tempat ia tinggal dulu.
Saat Sangkuriang melewati pasar, ia melihat sesosok wanita cantik semampai. "Cantik sekali wanita itu," gumamnya. Sangkuriang tak tahu, wanita itu adalah Dayang Sumbi, ibunya sendiri. Sangkuriang mendekati wanita itu dan mengajaknya berkenalan. Mereka berdua pun soling jatuh cinta, dan sepakat untuk menikah.
Suatu sore, Dayang Sumbi hendak memotong rambut Sangkuriang. Saat menyisir rambut
Sangkuriang, Dayang Sumbi terkejut. Ia melihat bekas luka di kepala Sangkuriang. "Jangan-ja- ngan..." bisiknya cemas.
"Sangkuriang, mengapa ada bekas luka di kepalamu?" tanyanya penasaran.
"Saat kecil, Ibuku memukul kepalaku dengan sendok nasi. Ia marah karena aku mengusir anjing peliharaan kami."
Dayang Sumbi langsung lemas mendengar penjelasan Sangkuriang itu. Terbata-bata, ia berkata, "Sangkuriang... akulah Ibu yang dulu memukul kepalamu, Nak. Kita tak boleh menikah, kita adalah ibu dan anak."
"Tak mungkin, pasti ini hanya alasanmu saja untuk membatalkan pernikahan kita." jawab Sangkuriang keras. Seribu kali Dayang Sumbi meyakinkannya, seribu kali pula Sangkuriang menolak. Ia tetap ingin menikahi Dayang Sumbi!
Akhirnya Dayang Sumbi mendapat akal. Ia meminta Sangkuriang untuk membendung Sungai Citarum dan membuat perahu besar untuk menyeberanginya. Keduanya harus selesai sebelum fajar menyingsing. Jika Sangkuriang gagal, Dayang Sumbi tak mau menikah dengannya. Sangkuriang menyanggupi permintaan Dayang Sumbi itu. Baginya, kedua permintaan itu bukanlah hal yang sulit. Sangkuriang mulai bekerja. Dengan bantuan para jin, ia bekerja keras membendung Sungai Citarum. la tak sadar kalau Dayang Sumbi diam-diam memperhatikannya.
Dayang Sumbi cemas melihat Sangkuriang bisa bekerja secepat itu. "Aku harus segera melakukan sesuatu," pikirnya. “Aha,” ia teringat dengan kain sutra berwarna merah yang baru ia tenun. Kain itu berukuran cukup besar karena ia menenunnya untuk digunakan sebagai tirai dan selimut.
Dayang Sumbi berlari menuju perumahan penduduk. Dengan panik, ia menceritakan apa yang terjadi. Penduduk yang telah mengenal Dayang Sumbi dengan baik, tentu saja tak setuju jika Sangkuriang menikahinya. Mereka setuju untuk membantu Dayang Sumbi. Dayang Sumbi mengajak penduduk untuk menggelar kain sutra merah itu di sebelah timur Sungai Citarum. Sebagian penduduk yang lain membuat suara gaduh seolah-olah kegiatan pagi telah dilakukan.
Sangkuriang yang sedang bekerja, terkejut mendengar suara gaduh tersebut. Ia menoleh ke arah timur. Dilihatnya langit sudah merah, ia mengira pagi telah tiba. Ia tak tahu bahwa itu adalah kain sutra merah yang digelar oleh Dayang Sumbi dan penduduk desa. Sangkuriang sangat marah dan kecewa. "Aku telah gagal," katanya dalam hati. Sangkuriang berteriak sekeras-kerasnya, "Aku mencintaimu, Dayang Sumbiiii... aku benar-benar mencintaimu!" Sangkuriang tak bisa melawan amarah dalam dirinya. Dengan segala kekuatannya, ia menjebol bendungan yang ia buat. Air pun tumpah ke mana-mana. Ia juga menendang perahu besar yang terbuat dari kayu. "Gloodakkkk..." perahu itu terlempar jauh ke arah utara dengan posisi tertelungkup.
Konon kabarnya, perahu yang jatuh tertelungkup itu, sekarang dikenal dengan Gunung Tangkuban Perahu, yang berarti "perahu yang menelungkup".

“Pesan dari Cerita Rakyat Tangkuban Perahu Dongeng Sangkuriang untukmu adalah Memiliki cita-cita setinggi langit memang baik, tapi perlu dipertimbangkan juga apakah cita-cita dan keinginanmu itu merugikan orang lain atau tidak. Berhati-hatilah dalam mengucapkan sumpah, karena sumpah dan janji itu harus ditepati.”


Terima kasih bagi Adik-adik yang telah membaca dongeng sangkuriang bahasa indonesia yang Kakak posting sore ini. Jika kalian suka jangan lupa bagikan cerita rakyat sangkuriang bahasa indonesia ini ke rekan-rekan kalian yang lain, bisa melalui facebook, twitter dan google plus


Picture Source : Dongengceritarakyat





Tuesday, December 20, 2016

Cerita Rakyat Sunda : Dongeng Ciung Wanara

Dongeng Ciung Wanara adalah cerita rakyat Sunda yang sangat terkenal. Cerita Ciung Wanara populer di daerah Jawa Barat saja, tapi juga sudah tersebar ke seluruh Nusantara. Cerita Rakyat Ciung Wanara memiliki kemiripan dengan cerita rakyat jawa Timur yang berjudul Cindelaras (Kakak pernah mempostingnya Cerita Rakyat Jawa Timur : Kisah Cindelaras) . Pasti adik-adik sudah sangat penasaran dengan Kisah Ciung Wanara ini. Selamat membaca.

Cerita Rakyat Jawa Barat (Sunda) : Dongeng Ciung Wanara


Pada zaman dahulu kala. Di sebuh daerah Jawa barat terdapat Kerajaan,yang bernama Kerajaan Galuh. Kerajaan Galuh di pimpin oleh seorang Raja yang bijaksana. Raja tersebut bernama Raden Barma Wijaya Kusuma. Sang Raja memiliki dua Permaisuri. Permaisuri pertama bernama Nyimas Dewi Naganingrum dan yang kedua Nyimas Dewi Pangrenyep. Dalam waktu bersamaan kedua Permaisuri tersebut dalam kedaan mengandung.
Suatu hari, Permaisuri Nyimas Dewi Pangrenyep melahirkan terlebih dahulu. Ia melahirkan seorang Bayi Laki-laki yang sangat lucu dan tampan. Pangeran tersebut di beri nama Hariangbanga. Tidak lama kemudian Permaisuri Dewi Naganingrum pun akan segera melahirkan. Dewi Pangrenyep bergegas untuk membantunya. Akhirnya, Dewi Naganingrum melahirkan seorang Bayi Laki-laki yang tidak kalah lucu dan tampan dari kakaknya Hariangbanga.
Di balik kesediaannya menolong persalinan Dewi Naganingrum. Ternyata Dewi Pangrenyep tidak menyukain Dewi Naganingrum menjadi pesaingnya. Karena ia ingin menguasai Kerajaan dan menjadikan Putranya sebagai Raja kelak. Ia pun merencanakan niat jahatnya yang sudah ia susun agar sesuai dengan harapannya.
Tanpa sepengetahuan siapapun. Bayi Laki-laki yang baru saja di lahirkan Dewi Naganingrum di tukar dengan seekor anak Anjing. Bayi yang sebenarnya di masukkan ke dalam sebuah keranjang. Dewi Pangrenyep pun meletakkan sebutir telur ayam. Ia pun segera menghayutkan bayi tersebut ke sebuah sungai.
Di Kerajaan terjadi sebuah kehebohan. Kabar yang sangat mengejutkan menggemparkan seluruh isi Istana dan rakyat. Mengetahui kenyataan ini menghancurkan harga dirinya sebagai Raja. Bagaimana tidak, Permaisuri yang selama ini ia cintai sudah melahirkan seekor anak Anjing.
Dalam keadaan marah. Akhirnya, Raja segera memanggil Penasehat Raja yang bernama Ki Lengser. Namun, memanggil Ki Lengser bukan untuk meminta sebuah nasihat. Tapi, memerintahkan Ki Lengser untuk segera membunuh Dewi Naganingrum dan mayatnya di buang jauh-jauh. Raja memerintahkan Ki Lengser segera melakukan tugasnya.
Dalam perjalanan, Ki Lengser berpikir untuk menyelamatkan Dewi Naganingrum tanpa sepengetahuan siapapun. Ki Lengser yakin kejadian yang menimpa Dewi Naganingrum adalah suatu kebohongan. Namun, ia tidak mempunyai bukti untuk membantu Dewi Naganingrum. Ki Lengser membawa Dewi Naganingrung masuk kedalam hutan belantara.
Ki Lengser membuatkan sebuah gubug untuk tempat tinggal Dewi Naganingrum. Setelah gubug itu selesai di buatnya, dengan terpaksa Ki Lengser meninggalkan Naganingrum seorang diri. Sebelum ia pergi, ia pun berjanji akan mengunjunginya.
Sementara, Naganingrum sangat berharap suatu hari nanti ia dapat bertemu dengan Putra kandungnya. Ia pun berharap dapat kembali ke Istana dan hidup bahagia bersama keluarganya. Ki Lengser pun segera kembali ke istana. Ia langsung mengahadap Raja dan melaporkan bahwa tugasnya untuk membunuh Dewi Naganingrum sudah di laksanakan dengan baik. Untuk membuktikan bahwa ia sudah melaksanakan tugasnya, ia membasahi senjatanya dengan darah binatang buruan yang ia temui di dalam hutan.
Sementara di suatu tempat. Hiduplah sepasang suami istri yang sudah sangat tua. Namun, mereka tidak memiliki anak. Suatu hari, mereka berdua pergi ke sebuah sungai untuk menangkap Ikan. Namun, mereka di kejutkan dengan sebuah keranjang besar berisi seorang bayi Laki-laki yang sangat lucu dan tampan. Mereka sangat bahagia dan mereka berpikir bahwa inilah sebuah jawaban dari doanya.
Sepasang suami istri sangat bersyukur. Satu butir Telur Ayam yang berada di samping Bayi Laki-laki tersebut. Di simpannya telur Ayam tersebut kepada seekor Naga yang bernama Nagawiru yang berada di Gunung Padang. Naga tersebut bukanlah Naga sembarangan. Namun, jelmaan seorang Dewa dan sudah menjadi tugasnya untuk mengerami satu butir Telur Ayam tersebut. Suatu saat nanti. Telur tersebut akan menetaskan seekor Ayam Jantan dan menjadi binatang kesayangan dari anak bayi yang di temukan sepasang suami istri tersebut.
Waktu tanpa terasa terus berjalan. Bayi Laki-laki, sekarang tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan, cerdas, gagah dan pemberani. Anak tersebut di beri nama Ciung Wanara. Aki dan Nini memberikan nama Ciung Wanara karena mereka melihat seekor Monyet yang aneh, Monyet tersebut bernama Wanara. Kemudian mereka pun melihat seekor Burung yang bernama Ciung. Akhirnya, keduanya sepakat. Nama dari ke dua binatang tersebut. Akhirnya, di jadikan sebagai nama anaknya.
Ciung Wanara tumbuh menjadi seorang Pemuda yang sangat tampan. Suatu hari, ia ingin sekali pergi ke Galuh untuk mengembara. Awalnya, Aki dan Nini tidak menginjinkannya. Namun, karena anaknya terus memaksa. Sebelum ia berangkat ke Kerajaan Galuh, ia bertanya siapa Ayah dan Ibu kandungnya. Awalnya, Aki dan nini tidak mau menceritakan kebenarannya. Namun, Ciung Wanara terus bertanya. Aki menjelaskan bahwa Ayah kandungnya adalah seorang Raja dari Kerajaan Galuh. Dan Ibunya di asingkan di dalam hutan belantara. Mendengar penjelsan tersebut. Akhirnya, Ciung Wanara berangkat ke Kerajaan Galuh dengan membawa Ayam Jantan kesayangannya.
Setibanya di kerajaan Galuh. Ia bertemu dengan dua orang Patih yang bernama Purawesi dan Puragading. Kedua Patih tersebut tertarik dengan Ciung Wanara, karena ia membawa seekor Ayam Jantan. Kedua Patih tersebut menghampiri dan mengajaknya untuk adu Ayam. Ciung Wanara menerima tantangan dari kedua Patih tersebut. Pertandingan sambung Ayam di lakukan di tengah alun-alun Kota Galuh. Akhirnya, nasib baik selalu berpihak kepada Ciung Wanara. Ayam Jantang kesayangannya menang dalam pertandingan.
Kemenangan Ciung Wanara tersebut langsung tersebar ke Kerajaan. Kemenangan itu terdengar oleh Sag Raja, bahwa ada seorang Pemuda Tampan memiliki seekor Ayam Jantan yang sangat tangguh. Akhirnya, takdir mempertemukan Ayah dan anak yang sudah di pisahkan oleh perbuatan Dewi Pangrenyep.
Ciung Wanara datang ke Istana untuk bertemu dengan Raja. Ia pun membuat kekacauan di depan Istana. Akhirnya, Baginda segera memerintahkan para pengawal agar Ciung Wanara menghadap. Setelah berhadapan dengan Sang Raja, Ciung Wanara pun menyembah.
"Hai Anak Muda! Siapa namamu dan dari mana asalmu?"
"Nama hamba Ciung Wanara, putra dari Aki dan Nini Balangantrang dari desa Geger Sunten," jawab Ciung Wanara dengan lantang.
"Apa maksud kedatanganmu kemari?"
"Begini, Tuanku. Hamba mempunyai seekor Ayams yang aneh. Induknya mengandung selama setahun. Sarangnya sebuah kandaga. Lebih aneh lagi, sebelum menetas, telur ini pernah hanyut di sungai," kata Ciung Wanara.
Raja teringat pada Naganingrum yang mengandung selama setahun. Sedangkan Dewi Pangrenyep sudah mengira, bahwa yang sekarang berada di hadapannya adalah putra dari Naganingrum. Kedatangannya hendak membalas dendam.
"Kau berniat untuk menyambung Ayam dengan milikku? Apa taruhannya?" tanya Raja Galuh.
"Jika ayam hamba yang kalah, hamba bersedia menyerahkan nyawa hamba. Tapi sebaliknya, jika ayam baginda yang kalah, maka hamba mohon diberi separuh kerajaan Galih Pakuan," kata Ciung Wanara.
Karena raja Galih Pakuan merasa yakin, bahwa ayam jagonya akan menang, taruhan Ciung Wanara disetujui. Baginda segera membawa ayamnya ke halaman dan diikuti oleh Ciung Wanara.
Pertandingan sabung Ayam pun berlangsung dengan seru. Awalnya, Ayam jantan milik Ciung Wanaralah yang menunjukkan kekalahan. Namun, tiba-tiba Ayam tersebut kembali segar dan kuat kembali. Akhirnya, dengan mudah Ayam milik sang Raja kalah terdesak. Ciung Wanara kembali memenangkan pertandingan sabung Ayam.
Sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui, Ciung Wanara mendapat negara sebelah Barat. Sedangkan sebelah Timur oleh baginda diserahkan kepada Hariangbanga. Masing-masing bergelar Prabu.
Akhirnya, semua rahasia tentang Ciung Wanara terungkap dan segala kejahatan yang dilakukan Dewi Pangrenyep terbongkar dengan sendirinya. Ki Lengser pun menceritakan bahwa Ibu kandungnya masih hidup dan di asingkan di sebuah hutan. Ciung Wanara sangat bahagia dan segera menjemput ibunya, ia pun menjemput kedua angkatnya.
Sementara itu Dewi Pangrenyep mulai hatinya ketar ketir setelah tahu kalau Ciung Wanara adalah anak bayi yang dibuangnya  dulu. Hingga akhirnya kegelisahan dan ke khawatirannya itu pun segera terjawab dan terwujud. Prabu Ciung Wanara setelah tahu apa yang telah dilakukan oleh Dewi Pangrenyep terhadap ibunda dan dirinya sendiri, maka segera membentuk pasukan khusus untuk menangkap Dewi Pangrenyep. Tanpa menemui kesulitan yang berarti Dewi pangrenyep segera tertangkap dan di jebloskan kedalam penjara istana untuk membayar segala  kejahatan dan kekejiannya.
Sementara Raden Hariangbanga sangat kaget ketika mengetahui kalau ibundanya tercinta telah ditangkap oleh tentara prabu Ciung Wanara dan dijebloskan ke dalam penjara. Pertarungan antara dua orang adik kakak beda ibu itupun tak dapat terelakan lagi. Pertarungan sengit terus terjadi dan raden Hariangbanga harus berlaku satria dia kalah terdesak oleh adiknya Ciung Wanara.
Setelah pertarungan itu kerajaan Galuh benar benar terbagi menjadi dua. Kerajaan Galuh terbagi dua karena dalam pertarungan tubuh Hariangbanga di lempar oleh Ciung Wanara hingga menyebrangi sungai Cipamali. Dari sejak itulah Kerajaan Galuh terbagi dua.
Akhirnya, Ciung Wanara, Ibunya, dan orang tua angkatnya hidup berbahagia di dalam istananya yang kemudian bernama Pakuan Pajajaran.



Pesan moral dari Cerita Rakyat Sunda : Dongeng Ciung Wanara adalah perbuatan buruk akan mendapatkan balasan dari keburukannya dimasa yang akan datang. Selalu berlaku baik akan membuatmu sukses dan bahagia.


Baca dongeng Sunda lainnya pada artikel kami berikut ini Dongeng Si Kabayan - Cerita Rakyat Sunda (Jawa Barat) dan Cerita Rakyat Sunda : Dongeng Lutung Kasarung



Picture Source : Dongengceritarakyat


Cerita Rakyat Situ Bagendit – Dongeng Sunda

Cerita Rakyat Situ Bagendit sudah sering kali diceritakan dalam berbagai buku dongeng Sunda. Bahkan sering juga dipentaskan menjadi drama. Kali ini kakak ceritakan dongeng Situ Bagendit dalam Basaha Indonesia. Kakak berharap adik-adik yang tidak bisa berbahasa Sunda dapat mengetahui cerita rakyat Jawa Barat yang penuh dengan pesan moral ini. Selamat membaca.

Dongeng Situ Bagendit - Cerita Rakyat Situ Bagendit dari Jawa Barat

Zaman dahulu kala, di sebuah desa yang terletak di Jawa Barat, hiduplah seorang perempuan kaya bernama Nyai Bagendit. Semenjak suaminya meninggal, Nyai Bagendit mendapat warisan berupa kekayaan yang berlimpah. Sayangnya, hal tersebut membuat Nyai Bagendit menjadi kikir dan congkak.
Nyai Bagendit paling senang mengadakan pesta dan gemar memamerkan harta benda dan perhiasannya kepada warga sekitar. Namun, ia tidak pernah mau membantu warga yang sedang kesulitan. Setiap kali warga datang meminta bantun, Nyai Bagendit menolaknya dengan angkuh. Warga sangat tidak menyukai perangai Nyai Bagendit. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa pun juga.
Suatu hari, Nyai Bagendit kembali menyelenggarakan pesta. la pun mulai memamerkan kekayaan dan perhiasannya kepada tamu yang hadir. Tiba-tiba, datanglah pengemis dengan pakaian compang-camping clan kotor.
"Nyai, tolong beri hamba makanan sedikit saja," kata pengemis tersebut.
Nyai Bagendit sangat marah dan mengusir pengemis itu, "Pergilah kau dari rumahku, pengemis kotor!" Pengemis itu pun pergi dengan perasaan sedih.
Keesokan harinya, di desa itu terjadi sesuatu yang aneh. Tiba-tiba, di sebuah jalan di desa tersebut ditemukan sebuah tongkat yang tertancap di tanah. Tidak ada satupun dapat mencabut tongkat itu, walaupun sudah mencobanya beramai-ramai. Akhirnya, datanglah pengemis yang sebelumnya diusir oleh Nyai Bagendit. la mencabut tongkat tersebut.
Setelah dicabut, mengalirlah air dari tempat tersebut. Makin lama semakin deras. Karena takut tenggelam, para penduduk segera mengungsi mencari tempat yang aman.
Nyai Bagendit tidak mau meninggalkan rumahnya walaupun air semakin tinggi. la tidak mau meninggalkan rumahnya yang penuh dengan harta dan perhiasan. la pun tenggelam bersama rumah dan isinya. Tempat tersebut berubah menjadi sebuah danau yang kemudian dinamakan Situ Bagendit.
Pesan moral dari Dongeng Situ Bagendit - Cerita Rakyat Situ Bagendit adalah keserakahan pada harta benda akan mencelakakan diri kita. Bantulah orang disekitarmu yang membutuhkan, dimasa yang akan datang saat dirimu sedang kesulitan maka Tuhan akan membantumu.
Dongeng Dongeng Sunda : Asal Usul Pantai Karang Nini
Aki Ambu dan Nini Arga Piara adalah sepasang suami istri yang sudah tua renta. Mereka tidak dikarunia anak, tetapi hidup saling menyayangi dan setia satu sama lain.
Setiap hari menjelang malam, Aki Ambu pergi ke laut untuk memancing ikan dan baru pulang pada pagi harinya. Suatu ketika, Aki Ambu terlihat kurang sehat, sehingga Nini Arga Piara melarang Aki Ambu untuk melaut.
"Aki tidak apa-apa, Nini. Biarkan Aki pergi mencari ikan. Persediaan makan kita sudah mau habis. Kalau Aki tidak melaut, kita tidak punya makanan besok " ujar Aki Ambu.
Meskipun telah dilarang oleh istrinya, Aki Ambu tetap ingin pergi. Akhirnya, Nini Arga Piara melepaskan Aki pergi.
“Hati-hati ya Ki, kalau rasanya tidak kuat lebih baik pulang saja." pesannya kepada Aki Ambu.
Aki Ambu pun berangkat ke laut dan mulai memancing ikan. Namun, sampai tengah malam tak satu pun ikan ia dapat.
Sementara itu, Nini Arga gelisah menunggu suaminya di rumah. Sampai pagi ketika ayam berkokok, Aki Ambu belum juga pulang. Akhirnya, Nini pergi ke pantai mencoba mencari suaminya. Usahanya sia-sia. la tak menemukan Aki Ambu. Hari berikutnya, Nini Arga dibantu warga mencari Aki Ambu. Namun, tetap saja Aki Ambu tidak ditemukan.
Lalu, Nini Arga duduk di pantai sambil menangis.
“Ya Tuhan, hamba mohon pertemukanlah hamba dengan suami hamba," tangisnya. Tuhan mengabulkan permintaannya.
Tiba-tiba, di hadapannya dari dalam laut muncullah sebentuk batu karang mengambang di hadapannya. Bersamaan dengan itu terdengarlah suara gaib.
"Nini Arga, batu yang mengambang itu adalah penjelmaan suamimu. Jadi, jangan mencari suamimu lagi."
Nini Arga menangis sejadi-jadinya. la tidak menyangka akan berpisah dengan suaminya seperti ini. Sambil terus menangis, ia berdoa kepada Tuhan.
"Ya Tuhan, hamba sangat mencintai suami hamba. Biarkanlah kami bersama selamanya. Ubahlah hamba menjadi seperti suami hamba."
Tiba-tiba langit mendung dan petir menyambar. Tubuh Nini Arga pun berubah menjadi batu karang yang berhadapan dengan batu terapung perwujudan Aki Ambu.
Oleh masyarakat sekitar batu karang tersebut dinamakan Karang Nini dan batu yang letaknya terapung perwujudan Aki Ambu dinamakan Bale Kambang, karena letaknya di atas perairan.


“Pesan moral dari Dongeng Dongeng Sunda : Asal Usul Pantai Karang Nini adalah kebaikan yang kalian sebarkan kepada orang lain akan berbuah kebaikan untukmu dimasa yang akan datang.
Baca dongeng dongeng dari Jawa Barat lainnya pada artikel berikut ini Kumpulan Dongeng Sunda – Cerita Rakyat Bandung dan Dongeng Cerita Rakyat Lutung Kasarung”


Picture Source : Dongengceritarakyat